Thursday, September 15, 2016

Lip Tie & Tongue Tie

Mengenai lip tie & tongue tie ini aku baru tau sejak jadi ibu, lip tie & tongue tie itu dimana bagian dalam mulut (selaput) melekat dengan gusi dan juga lidah melekat dengan selaput yg ada dibawah lidah. Awalnya aku ga tau sama sekali. Aku tau dari teman kalau anaknya ada lip tie dan tongue tie, saat itu aku sedang hamil dan aku hanya sekedar tau tanpa mencari tau.

Setelah sudah ada Rayhan aku sedang buka instagram dan melihat akun milik ibu muda yang bertanya apakah ada yg pernah mengalami lip tie dan tongue tie, dari situ aku coba lihat Rayhan yang sedang tidur, aku buka mulut atasnya, aku perhatikan benar-benar lalu berfikir dalam hati kok Rayhan selaput atasnya panjang sekali ya, dari gusi sampai terlalu kedepan. Ini iya ga ya? Lalu aku browsing dari foto-foto google mencari apakah ada yang seperti Rayhan, karena aku mulai curiga jadi langsung aku tanya temanku yang anaknya pernah mengalami lip tie & tongue tie, Rayhan kemudian aku foto. Dia bilang kalau sepertinya Rayhan mengalami Lip tie, waktu itu aku juga cek lidah Rayhan tapi aku ga yakin karena terlihat normal aja jadi yang paling menonjol adalah yang ada dimulut.

Temanku  segera memberi tau dengan lengkap tindakan dan tempat serta dokter yang harus dituju untuk melakukan pemotongan selaput itu dengan istilah insisi. Rumah sakitnya di kemang medical care, dengan dokter anak yaitu dokter Asti Proborini yang sering menangani kasus seperti ini. Setelah konsultasi dengan temanku, aku langsung banyak browsing tentang lip tie dan tongue tie, banyak yang pro tapi tidak sedikit yang kontra. Dari yang aku baca lip tie akan menyebabkan ketika tumbuh gigi bagian gigi depan akan terpisah karena ada selaput ditengah gusi, dan tongue tie bisa menyebabkan anak cadel. Well, itu aja sih konsentrasi aku untuk kedepannya, karena Rayhan tidak memiliki masalah lain seperi halnya yang dialami oleh bayi lain dengan keluhan puting ibu lecet-lecet, anak menangis terus walaupun sudah menyusu, menyusu dengan intensitas waktu yang sangat lama, dan lain sebagainya. Semuanya berjalan normal, aku menyusui dengan baik tidak ada lecet, kenaikan berat badan Rayhan normal, dan pelekatan pun tidak ada masalah. Karena itu aku baru tau Rayhan ada di bulan ketiga karena hasil liat postingan instagram.

Rayhan saat usia 3 bulan, yang aku curigai memiliki lip tie.
Beberapa hari kemudian aku segera telfon KMC untuk daftar dengan dokter Asti, Alhamdulillah masih dapat yang jam pagi. Tiba saat hari H insisi, karena aku datang terlalu pagi jadi masih sempat untuk menyusui Rayhan. Pas jamnya sudah tiba Rayhan yang terlihat paling besar 3 bulan diantara bayi lain yang masih beberapa minggu. Ketika sudah didalam ruangan dokter Rayhann di cek mulutnya dan lidahnya, ternyata Rayhan Lip tie di grade 4 dan ada tongue tie juga, insisi berjalan dengan cepat, darah yang keluarpun banyak, seketika itu juga ibu sudah harus siap untuk langsung menyusi, karena obatnya hanya dengan menyusui. Rayhan ga mau langsung menyusui masih menangis kejer lalu dokter Asti tanya Ibu baru menyusi ya? Harusnya puasa dulu anaknya minimal 2 jam sebelumnya, supaya dia lapar dan langsung mau menyusu. Karena aku ga tau ada aturan itu, mungkin harusnya KMC ketika ada pasien mau daftar ke dokter anak dan ditanya apakah untuk insisi, maka sudah diberikan catatan kalau pasien yang akan di insisi harus puasa terlebih dahulu.

Kemudian tidak lama Rayhan mau menyusu, lalu dokter Asti akan melihat bagaimana si bayi menyusu, bagaimana pelekatannya, Setelah selesai kami disuruh kembali lagi karena dr.Asti ingin melihat perkembangannya, selanjutnya dirujuk ke bagian laktasi dengan dokter yang akan mengajari senam lidah. Iya harus senam lidah supaya selaputnya tidak menyatu lagi katanya. Sehari kurang lebih 5 kali untuk melakukan senam lidah.

Aku baru tau kalau masih bayi banget awal-awal bulan kemudian diinsisi, darah yang keluar tidak akan banyak dan cepat sembuh. Wah kalau aja aku bisa tau lebih awal ya.. Ketika senam lidah dan sampai dijalan pulang Rayhan sudah keliatan baik-baik aja, kemudian tidur siang. Tapibsetelah bangun siang dia menangis lama sekali, mungkin baru terasa sakitnya, gak mau menyusu sampai ke maghrib dia masih juga gak mau nyusu. Wah aku takut banget kalau dia bakalan gak mau menyusu lagi, tapi Alhamdulillah lama kelamaan dia mau.

Pesan untuk ibu baru melahirkan, setelah lahiran coba minta dicek apakah ada ikatan di bibir dan lidahnya, karena bisa saja seperti aku karena tidak terjadi tanda-tanda pada umumnya yang sering terjadi. Kalaupun ada lip tie & tongue tie tanpa  keluhan apa-apa yang dirasa seperti aku tapi tidak ingin melakukan insisi tidak masalah semua kembali kepada pilihan masing-masing ibu :)

Tuesday, September 13, 2016

Proses Kelahiran Berjuang untuk Normal

Untuk Ibu hamil yang lagi bingung kok aku sudah usia kehamilan 40 minggu belum ada tanda-tanda lahir juga jangan bersedih ya, disini aku mau berbagi cerita pengalaman hamil diatas 40 minggu lebih.

Waktu hamil kemarin dibulan-bulan akhir pasti jadwal bertemu dengan dokter menjadi lebih sering, disitu aku belum ada tanda-tanda sedikitpun untuk lahiran. Aku memang bertekad untuk lahiran normal, tapi mulai panik tanya sana sini yang sudah lahiran, apa tanda-tandanya, gimana caranya, berapa minggu lahiran, dan sebagainya. Dokter aku sangat pro normal, jadi beliau pasti sangat mengusahakan pasiennya untuk lahiran secara normal apabila tidak ada masalah apa-apa yaa..

Disaat usia sekitar 38 minggu dokter sudah mulai kasih banyak cara untuk bisa stimulasi proses kelahiran seperti seringnya induksi alami sama suami dan pijat daerah put*ng agar terjadi kontraksi. Dua metode tadi aja sih yang selalu diucapkan sama dokter aku, untuk berjalan kaki dokter aku bilang itu tidak berpengaruh. 

Selama menunggu proses kehamilan waktu itu, setiap kali konsul aku sudah mulai ada pengecekan dalam oleh bidan, dari yang masih belum ada, sampai juga akhirnya bidan bilang "oh ini udah ada, masih satu". Sampai bebrapa hari kedepan aku masih belum ada tanda-tanda melahirkan dan pembukaanya belum berubah.

Ketika hampir diusia kandungan 40 minggu, dr. Kalsah menjelaskan kalau pada jaman dulu, aku lupa tepatnya tahun berapa bayi berada pada usia kandungan akhir di 43 minggu, tapi karena dilihat dari beberapa aspek kebanyakan bayi diusia tersebut tidak bagus, warnanya sedikit kebiruan ketika lahir, jadi sekarang usia paling akhir sebelum 41 minggu Ibu hamil sudah harus diusahakan untuk melahirkan. Selama proses akhir ini, aku sudah mulai untuk menjalani rekam CTG untuk mengetahui kontraksi, denyut jantung si bayi. Kemudian dokter aku melihat hasilnya, dan alhamdulillah semuanya bagus, jadi aku masih positif untuk bisa melahirkan secara normal.

Kemudian konsul selanjutnya beliau menjelaskan rencana yang akan dibuat untuk tetap mengusahakan kelahiran normalku, "nanti yah bapak dan ibu datang kesini malam, jam 7 malam sudah mulai proses balon, beliau menjelaskan apa itu proses balon. Proses balon itu si Ibu diberikan alat seperti balon ujungnya yg dimasukan kedalam jalan lahir nanti balonnya akan mengembang untuk memancing pembukaan. Jadi, Ibu akan di balon sampai pagi, jadi sekitar hampir 12 jam lah.. ketika pagi akan dimulai induksi pertama, induksi pertama beberapa jam tetesannya akan sekian, kemudian dinaikan tetesannya sekian dijam berapa (saya sedikit lupa, tapi yang jelas dia menjelaskan sangat detail dengan menggambar untuk kita membayangkan) nah kalau sudah sampai pembukaan ke empat nanti disuntik ILA supaya tidak terasa sakitnya, nanti Bapak sama Ibu bisa hubungi saya ke nomor ini kalau ada perlu apa-apa.

Dan dimulailah hari dimana rencana itu dijalankan, usia kehamilanku 40 minggu 3 hari sebelum mencapai 41 minggu. Proses awal booking kamar, selanjutnya rekam CTG, cek dalam, dan proses balon. Kalau ga salah aku mulai semua itu di jam 7 malam, jadi setelah semuanya dan balon sudah terpasang seperti kateter yang nempel cuma beda saluran. Semalam suntuk rasanya ga bisa tidur sampai pagi, subhanallah.. nikmatnya mau ketemu anakku ga kebayang rasanya memang perlu seperti ini, agar kita selalu mengingat dan mengulang-ulang indahnya melahirkan.

Kemudian di jam setengah 7 aku sudah siap untuk mulai di induksi, ketika dicek aku sudah ada pembukaan 4, waa alhamdulillah.. saat itu sih masih santai-santai aja, sakitnya udah ga kerasa lagi. Bidan sudah pasti akan sering masuk ke kamar untuk cek pembukaan, sampai jam 1 siang masih belum ada penambahan. Ketika pembukaan 5 sudah mulai berasa "nikmatnya", oh iya induksi aku dengan infus yang katanya lebih "wow" dari induksi yang dimasukan semacam obat entah ke anus atau ke depan. dan ketika di pembukaan 5 mau ke 6 rasanya sudah ga tertahankan lagi, serba salah. sakitnya mulai muncul sering beberapa menit sekali, wah jangan-jangan udah naik nih makin sering, ternyata masih belum juga, ya Allah ya Rabb ini sampe kapan yaa.. terus baca doa tapi masih sambil ngomong tolongin aku yang tolongin aku tolongin ga kuat, hahaaha.. udah berasa pengen ngeden tapi dikasi tau sama bidannya, ibu jangan ngieden dulu ya.. yah gimana bu aku ga sengaja kepengen ngeden banget, dan pas di jam 4 sore baru inget kalau ada suntik ILA, yaampun kirain bakalan ditawarin, gak taunya harus minta. Jadilah aku minta ILA saat it juga, bidan udah mulai telfonin dokter anestesi untuk suntik ILA, yaampun lama banget datengnya aku udah kaya mau meledak tolong.

Pas dokter anestesi untuk ILA datang dia bilang ini harusnya dipembukaan 4, dan akhirnya dengan jarum suntik yang panjang banget dan tebel itu disuntikkan di tulang belakang aku rasanya tiba-tiba langsung kebas dari perut sampai kaki, ya Allah langsung hilang sekejap sakitnya. Dari situ aku sudah bisa istirahat dari yang sebelumnya tenaga seperti terkuras keringat baju lepek. Enak banget rasanya, aku bisa minum susu, ketawa, nyengir-nyengir hehe.. karena capek akhirnya aku tidur.

Kira-kira jam 7 malem aku bangun, di cek pembukaannya sudah pembukaan 9, alhamdulilah.. dokter juga sudah mau datang. Dokter ku lihat ketubannya masih belum pecah, akhirnya disobek sama beliau, dalam hati yaampun tebel banget sih ini ga pecah-pecah ya.

Karena suntik ILA ini bikin aku kebas dari perut sampe kaki, aku ga bisa ngerasain kontraksi sama sekali, harus dibantu alat untuk mengetahui kapan aku kontraksi. Jadi, ketika kontraksi datang aku diberi aba-aba untuk mulai ngeden. Proses ngeden tanpa merasakan kontraksi itu sulit sekali, aku ga bisa ngerasain harus nafas gimana, karena aku ngerasanya udah nafas perut bukan di tahan dileher, tapi tetap masih dibilang salah. Karena hal itu kepala bayi ku keluar masuk lama dipanggul. Dokter bilang kalau sampai dua jam lebih belum keluar kemungkinan akan proses operasi, oh no! udah sampe segini ujung-ujung operasi juga yaampun aku gak mau :( Kepalanya sudah mulai kelihatan, dan dokter Kalsah kasih solusi untuk vacum kepala anakku supaya bisa ditarik keluar berdasarkan persetujuan kami, beliau tanya suamiku dan kamipun setuju. Beliau bilang ini cuma ditempel gak sampai tarik secara paksa gitu, soalnya kami takut kepalanya jadi panjang. Oh iya, selama proses lahiran ini dokter kalsah sabar banget, sangat menenangkan dan tetap sambil memberikan penjelasan sejelas-jelasnya kalau ada suatu tindakan atau rencana.

Kurang lebih 2 jam proses kelahiran anakku keluar juga, dokter langsung menaruh bayiku di perut sebentar lalu langsung dibawa lari ke tempat bayi setelah melahirkan. Bayiku gak nangis, aku takut banget dan sedih kenapa gak nangis. Sepanjang menunggu dokter datang lagi aku terus tanya ke Ibuku kenapa bayiku ga nangis. kemudian dr. Kalsah datang dan menjelaskan kalau bayiku itu nafasnya sudah berat karena lama dipanggul, meminum sedikit air ketuban, jadi harus masuk NICU, dan beberapa penjelasan lainnya. Sedihnya jangan ditanya, sedih banget ga bisa langsung lihat anak sendiri, dan proses IMD. Setelah itu aku dijahit, masih kebal dari suntik ILA.

Setelah itu, anakku harus masuk NICU selama 5 hari, di hari setelah melahirkan tempat tidur banyak darah, mau jalan ke kamar mandi ada darah mengalir, ohh.. ini ya darah nifas, banyak yaa.. dan rasa bekas jahitan itu sudah dimulai dari malam, kalau aja anaku udah sama aku pasti sakitnya ga akan kerasa :( dikamar mandi aku pusing seperti mau pingsan, mungkin efek dari suntik ILA, tapi ga lama. Jadi, buat Ibu yang mau lahiran setelah lahiran nanti jangan ke kemar mandi sendiri ya kalau mau mandi, sama suami atau Ibu kita. Ketika buang air aku penasaran kenapa yah kok sakit banget dan ada yang mengganjal dibawah, aku pikir itu bengkak karena jahitan tapi ternyata ambien, keluar cukup besar dan beberapa karena proses mengedan waktu lahiran :( Aku jalan cukup susah dan menahan sakit kalau duduk. Jadi ga bisa duduk tegak, harus miring.

Asi ku pun ga langsung keluar, aku sempat berpikir jangan-jangan asi aku ga ada, ya allah jangan sampai. Akhirnya aku mengadu sama bidan, lalu bidan coba memencet bagian yang ibu-ibu sudah tau ya dengan sangat keras.. mana ga keluar bu, nih keluar.. yaampun seneng banget ada sedikit, iya ini kolostrum. tapi karena anaku di NICU jadi gak bisa langsung kasih ASI pertama yang bagus banget ini buat dia. Setelah keluar sedikit itu, aku langsung pinjam alat pumping teman aku supaya bisa memancing keluar, hari pertama cuma keluar sedikit dan itu jd pinggiran kerak di alat pumping, tapi aku ga patah semangat walaupun sedikit aku coba terus, lama-lama jadi ada dan banyak, asi aku sering keluar sendiri dan banyak apalagi kalau menunduk.
Untuk Ibu-ibu jangan patah semangat kalau belum keluar asi, kita gak boleh gak percaya diri, harus tetep dicoba, minta tolong dengan bidan atau langsung konsultasi ke laktasi minta dipijat atau dipencet dengan mereka ahlinya, Insya Allah dengan ikhtiar kita bisa produksi asi untuk anak kita. Oh ya, jangan lupa minta dukungan dari orang-orang tersayang, disaat asi belum keluar jangan sampai ada omongan yang ga enak kta dengar, jadi harus kasih pesan dari sekarang ke orang-orang terdekat kita. Karena, kalau kepercayaan diri kita dibuat drop bisa berpengaruh besar dengan Asi kita.

Di hari ketiga aku sudah bisa menyusui anakku secara langsung, senang sekali rasanya. sakit yang aku rasain setiap mau ketemu anakku ga kerasa sama sekali, tapi setelahnya jangan ditanya.. hehe. alhamdulillah anakku sudah semakin sehat dan tinggal menunggu hasil beberapa tes dan dihari ke lima anakku boleh pulang.


Atharrayhan Ibrahim Zulu
berat 3,3kg, panjang 48 cm
Lahir 25 Februari 2016




Dua bulan lamanya kira-kira drama pasca lahiran, harusnya jahitan ini apalagi normal bisa cepat sembuhnya, tapi karena benang jahit menolak ga bisa menyatu sama tubuh aku, jadilah jahitan itu lepas dan terpaksa juga harus dibuka semua. Luka yang masih lebar itu pelan-pelan harus sering dibersihkan dengan Albothyl, kalau konsul sama dokter albotthyl lansung ditempel ke luka terus ditempelin perban yang udah di celup albotyhl, sepanjang jalan meringis :( tapi kalo dirumah aku berisihin ditetes aja digayung isi air terus aku siram, ngelakuin ini sesering mungkin. Selama itu aku jadi sering banget posisi menyusui tiduran, alhamdulillah Rayhan bisa menyusu sambil tidur.

Jadi intinya berdasarkan pengalaman mengenai kelebihan dan kekurangan suntik ILA iti ada beberapa hal, kelebihannya kita jadi bisa istirahat setelah capeknya diinduksi seperti bisa mengumpulkan tenaga lagi, karena aku ga tau deh kalau ga suntik ILA apakah aku akan kuat ketika  dimulai proses lahiran, kekurangannya aku jadi ga bisa ngerasain kontraksi karena kebas, kalau aja bisa ngerasain kontraksi mungkin aku bisa lebih mudah untuk ngeden dan bayiku ga lama di panggul. Jadi untuk para ibu yang harus melewati proses induksi semoga kalian semua kuat tanpa harus suntik ILA.

Jangan takut melahirkan, jangan takut dengan rasa sakitnya karena semua wanita mengalaminya, jadi harus berpikir postif dan perbanyak doa.












Sunday, September 11, 2016

Tentang Masa Kehamilan





Udah lama banget gak ngeblog semenjak lulus kuliah, kira-kira hampir empat tahun lamanya. Pengen banget cerita pengalaman baru, bisa dibilang lembaran hidup aku yang baru setelah menikah, jadi yaa.. semua post yang dulu rasanya aku lebih nyaman untuk dihapus aja :)

Mau cerita sedikit tentang masa kehamilan aku waktu itu, siapa tau banyak ibu-ibu muda yang sekedar ingin cari info tentang kehamilan bisa sedikit membantu, soalnya dulu waktu hamil aku sering banget cari tau lewat blog seperti pengalaman orang-orang apakah ada yang sama mengalami ini itu kaya aku.

Ini kehamilan pertama aku, yang udah ditunggu lumayan lama kira-kira delapan bulan. Aku menikah bulan September 2014, dan masa terakhir menstruasi aku ditanggal 24 Mei 2015.

Awal hamil itu gak berasa sama sekali, maklum yah aku tuh udah cape test pack hasilnya negatif terus. Ditambah datang bulan aku yang dari dulu gak teratur. Sekali ini telat ga kepikiran mau testpack, pas sadar-sadar udh beberapa minggu kok ga dapet-dapet yah, ah coba deh iseng testpack. Ternyata hasilnya garis dua, tapi satu garis lagi samar banget, jadi ga yakin. Temen aku bilang coba seminggu lagi aja testpack lagi, dan seminggu kemudian hasilnya udah tebel. Alhamdulillaaah :)


Pertama kali aku cek ke rumah sakit haji, sama dokter perempuan yang aku lupa namanya :( dia belum bilang pasti sih, cuma dia bilang masih dijalan. Maksudnya gimana ya dok, bayiku otw kemana? :)) jadi masih belum kelihatan ibaratnya, aku disuruh balik lagi bulan depan.

Dibulan berikutnya, aku cek di RS Hermina Bekasi dengan dr. Abdullah, aku mikir rumah sakit yang bagus dan terdekat aja sih biar mudah, aku coba searching dokter yang bagus siapa di RS Hermina? hasilnya paling banyak sebutin dr. Abdullah.

Bisa dibilang aku hamil kebo loh, ga pake mual, muntah, pusing-pusing. Semua dijalanin santai aja, paling yang berasa banget suka cepat capek. Tiap bulan kenaikannya satu kilo, tapi di bulan kelima timbangan mulai nge-gas ga santai, sebulan bisa naik sampai 6 kilo. Jadilah ditotal naik timbangan aku 22 kilo selama kehamilan, huaaaa... bengkak banget.

Singkat cerita, aku sampai diusia kehamilan kira-kira 8 bulanan sama dr. Abdullah, menginjak usia 8 bulan aku ke dokter lain juga di RS Islam Pondok Kopi dengan dr. Kalsah, karena beberapa teman aku sama beliau. Banyak cerita dari teman aku, kalau dr. Kalsah itu baik banget, sangat detail menjelaskannya jadi puas. Baiklah aku coba konsultasi dan foto USG di RS Islam dengan dokter kalsah.

Pertama konsultasi bareng sama suamiku, rasanya seperti langsung kenal dekat, menjelaskannya sangat detail kaya lagi kuliah, maklum anak pertama masih bingung masih mau tau tapi ga tau harus tanya apa, pokonya bisa sampe sejam setengah sendiri kalau konsultasi sama beliau dan itu ga berasa. Selasai konsul sama dr. Kalsah suamiku bilang terserah aku mau sama siapa, dan aku pilih dr. Kalsah, karena aku mau nyaman tanya apa aja ga ada rasa segan, dan bisa ngerasa deket sama dokter aku, itu sih yang penting.


 dari 47 kg naik jadi 69 kg

Ya, intinya nikmatilah masa-masa kehamilan kita. susah sedihnya pasti bikin kangen. Gak usah buru-buru kepengen cepet keluar bayinya, jalani saja. Karena nanti pasti tau sendiri kenapa nya, hehe..
Buat para calon ibu, harus selalu berpikiran postif ya.. usahakan hilangkan rasa sedih-sedih walaupun terkadang kita ga sadar karena itu memang wajar untuk ibu hamil, tetap sabar dan selalu berdoa :)



wibiya widget